Biografi
David Hume lahir pada 26 April 1711
di Edinburgh, Skotlandia. Nama Aslinya adalah David Home, kemudian pada tahun
1734 ia mengubah namanya menjadi David Hume, karena di Inggris kesulitan
mengucapkan “Home” dengan cara Skotlandia. Saat usia masih anak-anak David Hume
sudah ditinggalkan oleh ayahnya (wafat), sehingga ia dibesarkan oleh ibunya[1].
Dalam masalah pendidikan, David Hume
mendapatkan pendidikan yang sangat baik dengab harta yang ditinggalkan ayahnya.
Di Universitas Edinburgh ia mendaftarkan diri untuk belajar sastra klasik. Akan
tetapi Ia tidak puas dengan pendidikan yang ia terima sehingga ia keluar dari
Universitas tersebut dan pergi ke Prancis serta menjadi seorang filsuf besar.
Antara
tahun 1752-1757, Hume mengabdi sebagai petugas perpustakaan di Faculty of
Advocates di Edinburg. Setelah mendapatkan sumber-sumber dari perpustakaan ini,
Hume menulis tentang sejarah Inggris. Karya ini tidak hanya panjang, tetapi
juga kontroversial. Bagaimanapun, sebagai akibatnya, semua tulisan Hume menjadi
lebih dikenal dan karya-karya itu mendapat pujian luas dari beberapa kalangan.
Pujian tersebut terutama datang dari kalangan intelektual Perancis dan ketika
Hume pergi ke sana pada tahun 1763 sebagai sekretaris Duta Besar Inggris, ia
menerima sambutan hangat. Ia kembali ke London di tahun 1766 bersama Rousseau,
meskipun hubungan antara keduanya segera menegang. Setelah mengabdi selama tiga
tahun di Undersecretary of State, Hume pensiun di Edinburg dan meninggal di
sana tahun 1776 di kota kelahirannya Edinburgh, Skotlandia. Dan sepanjang
hidupnya, Hume tidak pernah menikah.
Pemikiran
Era Hume ini merupakan puncak aliran
empirisme yang sudut pandangnya menggabungkan empirisme Locke dan Berkeley,
yang berpendapat bahwa pengetahuan didapat hanya dari persepsi panca indra,
dengan filsafat Francis Hutcheson yang berpendapat bahwa moralitas didapat dari
sentimen atau perasaan[2].
Bagi Hume dan tokoh lainnya pengalaman empiris lebih dari sekedar rasio, karena
ia merupakan sumber pegetahuan, baik pengalaman intern maupun ekstern. Semua
ilmu berhubungan dengan hakikat manusia, ilmu inilah yang merupakan
satu-satunya dasar kokoh bagi ilmu yang lain[3].
1. Teori Pengetahuan
Ø Landasan Segala Pengetahuan
Hume memulai pemikiran kontroversialnya
melalui penggabungan dua konsep tersebut, yaitu bahwa pengetahuan terbaik kita,
hukum ilmiah, bukanlah apa-apa melainkan persepsi pengindraan yang meyakinkan
perasaan kita. Karena itu meragukan sekali bahwa kita memiliki pengetahuan,
kita hanya mempunyai persepsi panca indra dan perasaan. Dalam pemikiran Hume,
ada skeptisme radikal, bentuk keraguan ekstrem atas kemungkinan bahwa kepastian
dalam pengetahuan merupakan hal yang bisa dicapai.
David Hume dalam bukunya Treatise of
Human Nature bagian pendahuluan, dia mengatakan bahwa tujuan penulisannya
adalah untuk mempelajari ilmu pengetahuan mengenai manusia dan menjelaskan
prinsip-prinsip sifat alamiah manusia. Seperti Newton, dia akan mereduksi ilmu
pengetahuan mengenai manusia, sebagaimana Newton mereduksi mekanik menjadi
beberapa prinsip sederhana saja. Namun kenapa dia lakukan hal ini? Menurutnya
ilmu pengetahuan lainnya didasarkan pada ilmu pengetahuan mengenai manusia.
Sehingga mempelajari ilmu tersebut, merupakapan proses mempelajari landasan
segala pengetahian manusia[4].
Untuk membuktikan ini Hume mengajukan pertanyaan yang merupakan pertanyaan
paham empirisme yaitu: Bagaimana anda tahu? Apa yang menjadi asal pegetahuan
kita? Apa yang menjadi batasan pengetahuan manusia? Hume akan terus mendesak
dan tanpa henti melakukannya. Dan dia telah mengetahui apa yang telah kita
tunjukan: bahwa kita tidak memiliki pengetahuan, melainkan sekedar keyakinan
bahwa yang kita rasakan itu benar. Karena menurutnya pengetahuan dimulai dari
pengalaman indra sebagai dasar[5].
Menurut Hume sumber pengetahuan adalah
lewat pengamatan persepsi pengindraan, bukan dengan ide bawaan (ide innate).
Hasil dari pengamatan adalah kesan-kesan (impression) dan pengertian-pengertian
atau idea-idea (ideas)[6].
Isi ide dan kesan adalah sama perbedaannya adalah cara timbul dalam kesadaran[7].
Semua pengalaman menurut Hume termasuk
golongan penghayatan atau ide-ide[8].
Ø Kritis Keras atas Doktrin Dua Jenis
Pengetahuan
Alasan
Hume memojokkan para filsuf teologi dengan pertanyaan empirisme, mengawali buku
Treatise-nya dengan pencarian
landasan bagi pengetahuan manusia? Tujuannya menanyakan apa yag menjadi
landasan segala pengetahuan adalah untuk menunjukkan bahwa hanya ada satu
landasan, berisi satu jenis pengetahuan saja, pengetahuan oleh pengamatan
persepsi panca indra. Dia bermaksud ingin meruntuhkan keyakinan filsafat lama
bahwa ada jenis pengetahuan, yaitu: 1. Pengetahuan biasa tingkat bawah mengenai
alam kasat mata, alam yang berubah-rubah yag dinamakan oleh Plato dengan opini
sejati dan Descartes menamakannya ide pemikiran indra yang membingungkan. Bagi
Plato dan Descartes ada tingkat tinggi pengetahuan dengan penalaran sebagai
sumbernya dan meciptakan kepastian[9].
Hume
membantah bahwa ada dua jenis pengetahuan. Pemikiran bahwa ada jenis
pengetahuan tingkat atas yang bisa filsuf capai dengan akalnya, penngetahuan
akan alam realitasnya, pengetahuan metafisika gagasan ini dia katakan
benar-benar keliru, hanyalah ilusi. Filsuf yang mengemukakan gagasan ini
dihadapan masyarakat awam sangatlah bersalah karena merupakan penipu dan dusta.
Metafisika, kata Hume, seperti milik Plato, Saint Thomas atau Descartes
merupakan produk dari “kesombongan yang gegabah,” “kepura-puraan yang angkuh,”
dan “keluguan tahayyul” dari orang-orang yang meyakininya.
Hume
membagi pengetahuan menjadi dua. Pertama pengetahuan demostratif merupakan yang
diperoleh melalui pemikiran tentang hubungan antara idea-idea. Kedua
pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran tentang matter of fact yang
disebut moral[10].
[1] Wahyu Murtiningsih. Para Filsuf
dari Plato Sampai Ibnu Bajjah. Hlm. 112
[2] T.Z. Lavine. David Hume; Risalah
Filsafat Empirisme. Hlm. 25
[3] Wahyu Murtiningsih. Hlm. 113
[4] Ibid. 140
[5] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum:
Akal dan Hati Sejak Thales sampai Copra. Hlm. 181
[8] Brouwer dan Haryadi. Sejarah Filsafat Modern dan Sezaman. Hlm. 62
[9] T. Z. Lavine. David Hume: Risalah
Filsafat Empirisme. Hlm. 30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar