Kamis, 02 Januari 2014

DAVID HUME dan PEMIKIRANNYA

Biografi
            David Hume lahir pada 26 April 1711 di Edinburgh, Skotlandia. Nama Aslinya adalah David Home, kemudian pada tahun 1734 ia mengubah namanya menjadi David Hume, karena di Inggris kesulitan mengucapkan “Home” dengan cara Skotlandia. Saat usia masih anak-anak David Hume sudah ditinggalkan oleh ayahnya (wafat), sehingga ia dibesarkan oleh ibunya[1].
            Dalam masalah pendidikan, David Hume mendapatkan pendidikan yang sangat baik dengab harta yang ditinggalkan ayahnya. Di Universitas Edinburgh ia mendaftarkan diri untuk belajar sastra klasik. Akan tetapi Ia tidak puas dengan pendidikan yang ia terima sehingga ia keluar dari Universitas tersebut dan pergi ke Prancis serta menjadi seorang filsuf besar.
Antara tahun 1752-1757, Hume mengabdi sebagai petugas perpustakaan di Faculty of Advocates di Edinburg. Setelah mendapatkan sumber-sumber dari perpustakaan ini, Hume menulis tentang sejarah Inggris. Karya ini tidak hanya panjang, tetapi juga kontroversial. Bagaimanapun, sebagai akibatnya, semua tulisan Hume menjadi lebih dikenal dan karya-karya itu mendapat pujian luas dari beberapa kalangan. Pujian tersebut terutama datang dari kalangan intelektual Perancis dan ketika Hume pergi ke sana pada tahun 1763 sebagai sekretaris Duta Besar Inggris, ia menerima sambutan hangat. Ia kembali ke London di tahun 1766 bersama Rousseau, meskipun hubungan antara keduanya segera menegang. Setelah mengabdi selama tiga tahun di Undersecretary of State, Hume pensiun di Edinburg dan meninggal di sana tahun 1776 di kota kelahirannya Edinburgh, Skotlandia. Dan sepanjang hidupnya, Hume tidak pernah menikah.

Pemikiran
            Era Hume ini merupakan puncak aliran empirisme yang sudut pandangnya menggabungkan empirisme Locke dan Berkeley, yang berpendapat bahwa pengetahuan didapat hanya dari persepsi panca indra, dengan filsafat Francis Hutcheson yang berpendapat bahwa moralitas didapat dari sentimen atau perasaan[2]. Bagi Hume dan tokoh lainnya pengalaman empiris lebih dari sekedar rasio, karena ia merupakan sumber pegetahuan, baik pengalaman intern maupun ekstern. Semua ilmu berhubungan dengan hakikat manusia, ilmu inilah yang merupakan satu-satunya dasar kokoh bagi ilmu yang lain[3].
1.      Teori Pengetahuan
Ø  Landasan Segala Pengetahuan
Hume memulai pemikiran kontroversialnya melalui penggabungan dua konsep tersebut, yaitu bahwa pengetahuan terbaik kita, hukum ilmiah, bukanlah apa-apa melainkan persepsi pengindraan yang meyakinkan perasaan kita. Karena itu meragukan sekali bahwa kita memiliki pengetahuan, kita hanya mempunyai persepsi panca indra dan perasaan. Dalam pemikiran Hume, ada skeptisme radikal, bentuk keraguan ekstrem atas kemungkinan bahwa kepastian dalam pengetahuan merupakan hal yang bisa dicapai.
David Hume dalam bukunya Treatise of Human Nature bagian pendahuluan, dia mengatakan bahwa tujuan penulisannya adalah untuk mempelajari ilmu pengetahuan mengenai manusia dan menjelaskan prinsip-prinsip sifat alamiah manusia. Seperti Newton, dia akan mereduksi ilmu pengetahuan mengenai manusia, sebagaimana Newton mereduksi mekanik menjadi beberapa prinsip sederhana saja. Namun kenapa dia lakukan hal ini? Menurutnya ilmu pengetahuan lainnya didasarkan pada ilmu pengetahuan mengenai manusia. Sehingga mempelajari ilmu tersebut, merupakapan proses mempelajari landasan segala pengetahian manusia[4]. Untuk membuktikan ini Hume mengajukan pertanyaan yang merupakan pertanyaan paham empirisme yaitu: Bagaimana anda tahu? Apa yang menjadi asal pegetahuan kita? Apa yang menjadi batasan pengetahuan manusia? Hume akan terus mendesak dan tanpa henti melakukannya. Dan dia telah mengetahui apa yang telah kita tunjukan: bahwa kita tidak memiliki pengetahuan, melainkan sekedar keyakinan bahwa yang kita rasakan itu benar. Karena menurutnya pengetahuan dimulai dari pengalaman indra sebagai dasar[5].
Menurut Hume sumber pengetahuan adalah lewat pengamatan persepsi pengindraan, bukan dengan ide bawaan (ide innate). Hasil dari pengamatan adalah kesan-kesan (impression) dan pengertian-pengertian atau idea-idea (ideas)[6]. Isi ide dan kesan adalah sama perbedaannya adalah cara timbul dalam kesadaran[7]. Semua  pengalaman menurut Hume termasuk golongan penghayatan atau ide-ide[8].
Ø  Kritis Keras atas Doktrin Dua Jenis Pengetahuan
Alasan Hume memojokkan para filsuf teologi dengan pertanyaan empirisme, mengawali buku Treatise-nya dengan pencarian landasan bagi pengetahuan manusia? Tujuannya menanyakan apa yag menjadi landasan segala pengetahuan adalah untuk menunjukkan bahwa hanya ada satu landasan, berisi satu jenis pengetahuan saja, pengetahuan oleh pengamatan persepsi panca indra. Dia bermaksud ingin meruntuhkan keyakinan filsafat lama bahwa ada jenis pengetahuan, yaitu: 1. Pengetahuan biasa tingkat bawah mengenai alam kasat mata, alam yang berubah-rubah yag dinamakan oleh Plato dengan opini sejati dan Descartes menamakannya ide pemikiran indra yang membingungkan. Bagi Plato dan Descartes ada tingkat tinggi pengetahuan dengan penalaran sebagai sumbernya dan meciptakan kepastian[9].
Hume membantah bahwa ada dua jenis pengetahuan. Pemikiran bahwa ada jenis pengetahuan tingkat atas yang bisa filsuf capai dengan akalnya, penngetahuan akan alam realitasnya, pengetahuan metafisika gagasan ini dia katakan benar-benar keliru, hanyalah ilusi. Filsuf yang mengemukakan gagasan ini dihadapan masyarakat awam sangatlah bersalah karena merupakan penipu dan dusta. Metafisika, kata Hume, seperti milik Plato, Saint Thomas atau Descartes merupakan produk dari “kesombongan yang gegabah,” “kepura-puraan yang angkuh,” dan “keluguan tahayyul” dari orang-orang yang meyakininya.
Hume membagi pengetahuan menjadi dua. Pertama pengetahuan demostratif merupakan yang diperoleh melalui pemikiran tentang hubungan antara idea-idea. Kedua pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran tentang matter of fact yang disebut moral[10].



[1] Wahyu Murtiningsih. Para Filsuf dari Plato Sampai Ibnu Bajjah. Hlm. 112
[2] T.Z. Lavine. David Hume; Risalah Filsafat Empirisme. Hlm. 25
[3] Wahyu Murtiningsih. Hlm. 113
[4] Ibid. 140
[5] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Copra. Hlm. 181
[6] Steven M. Cahn. Exploring Philosophy An Introductory Anthologi. Hlm. 136
[7] Harun Hadi Wijaya. Sari Sejarah Filsafat 2. Hlm 53
[8] Brouwer dan Haryadi. Sejarah Filsafat Modern dan Sezaman. Hlm. 62
[9] T. Z. Lavine. David Hume: Risalah Filsafat Empirisme. Hlm. 30
[10] Steven M. Cahn. Exploring Philosophy An Introductory Anthologi. 137

Tidak ada komentar:

Posting Komentar